2012/07/26
Agama Islam mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa berbakti dan berbuat baik kepada ibu. Tidak terhitung jasa dan pengorbanan seorang ibu kepada anak-anaknya. Mulai dari saat mengandung, proses melahirkan, menyusui, pertumbuhan, hingga usia dewasa anak.



Bahkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori dan Muslim, menceritakan bagaimana Rasullulah SAW menegaskan kepada pengikutnya untuk senantiasa mengutamakan ibu.

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata berkata, 'Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali? Nabi menjawab, Ibumu. Dan orang tersebut kembali bertanya, Kemudian siapa lagi? Nabi menjawab, Ibumu. Orang tersebut bertanya kembali, Kemudian siapa lagi? Beliau menjawab, Ibumu. Orang tersebut bertanya kembali, Kemudian siapa lagi, Nabi menjawab, Kemudian ayahmu."

Rasullulah menjelaskan salah satu tujuan Islam mewajibkan pengikutnya untuk berbakti dan berbuat baik kepada ibu karena keridhoan Allah SWT kepada hambanya itu, tergantung dengan sikap hamba itu kepada orang tuanya. Sebagaimana yang tertuang dalam hadits yang diriwayatkan Timidzi.

Dari Abdullah Ibnu Amar al-’Ash RA, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda "Keridhoan Allah tergantung kepada keridhoan orang tua, dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua."

Tidak sedikit cerita yang membuktikan kebenaran hadits ini, seperti kisah hidup yang dialami oleh salah satu ustadz yang lagi naik daun di Indonesia.

Awalnya pria ini hanya bekerja sebagai pebisnis. Seiring berkembangnya waktu, pria paruh baya ini mendapat pencerahan hingga akhirnya tertarik dengan dunia dakwah. Hari demi hari dilewatinya dengan berdakwah menyiarkan agama Islam. Berbagai media dia gunakan untuk menyampaikan kebenaran, mulai dari mimbar surau, dakwah keliling, hingga berbakwah dalam media elektronik.

Kesuksesan sang ustadz tidak berhenti sampai di situ, usaha yang dia geluti seperti perusahaan jasa pelaksanaan Umroh juga ketiban berkah. Banyak kaum muslimin yang tertarik melakukan umrah memilih perusahaan sang ustadz.

Pada suatu hari, ustadz ini menceritakan sepenggal kisah hidupnya yang tidak jarang melakukan perjalanan hingga ke beberapa negara dalam sehari. Seperti perjalanan pulang pergi dari Jakarta ke Makkah, dan perjalanan dari Jakarta Singapura hingga Malaysia.

Ternyata kesuksesan sang ustadz itu berawal dari doa sang ibu, yang selalu diucapkannya sambil memandikan sang ustadz kecil.

Sekitar kurun waktu tahun 1980-1988, saban sore sang ustadz kecil selalu dimandikan ibunya di bak kecil. Begitu sayangnya sang ibu hingga sewaktu mengeramasi rambut anaknya, sang ibu selalu berhati-hati agar busa shampo tidak sampai terjatuh ke kedua bola mata anak tersayangnya.

Sambil memandikan, sang ibu selalu menyenandungkan sholawat dan mendoakan anaknya untuk dapat mengunjungi 'rumah' Allah SWT di Makkah jika sudah dewasa nanti. Sambil sesekali memercikkan air dalam tampungan tangannya ke badan sang ustadz kecil.

"Agar bisa bolak-balik ke Makkah, seperti kamu melewati depan pintu," kata ustadz menirukan doa ibunya.

Namun karena kepolosan anak kecil, sang ustadz waktu itu membantah doa itu bisa terwujud. Menurutnya tidak mungkin dirinya nanti bisa melakukan perjalanan pulang pergi beda negara itu dalam satu hari.

Mendengar jawaban sang anak, ibu hanya tersenyum sambil menjewer kuping anaknya dengan rasa sayang. Dengan bijak, ibu menjelaskan kepada buah hatinya "Tidak percaya sama Allah ya? Itu kan doa," kata ustadz menirukan.

Kini, doa itu menjadi kenyataan. Ustadz menceritakan bahwa dalam sehari dirinya pernah pulang pergi Jakarta-Makkah. 

Terbang ke Mekkah sore hari, sampai di Jeddah jam 23.00 waktu setempat. kemudian berangkat ke Makkah jam 01.00 dini hari, untuk melakukan prosesi umrah hingga pukul 04.00. dan sore harinya sudah kembali lagi ke Jakarta.


Sumber : http://www.merdeka.com free counters

About Me

Perkenalkan nama saya Whais YM seorang blogger pemula yang ingin berbagi informasi unik aneh dan menarik. Terimakasih sudah berkunjung dan semoga bermanfaat

0 komentar